Tidak pernah terbesit sekali pun kalau jalan hidup akan menjadi ibu rumah tangga. Dulu saat masih duduk di bangku SMA, saya masih ingat ketika ditanya oleh guru Geografi akan kuliah di mana, dengan lantang menjawab, “Ingin belajar di Belanda.”
Saya pun waktu itu bingung dengan nama negara yang seketika keluar dari mulut. Orang-orang akan memilih Jepang, Inggris atau lainnya, saya sendiri pilih Belanda. Guru Geografi, ibu Helena, mengatakan seperti ini, “Rahmah, sepertinya terlalu tinggi karena ibu tahu betul karakter mamamu yang tidak bisa membiarkan anaknya pergi jauh.”
Long short stroy, memang kenyataan itu terjadi. Kuliah saja tidak boleh ngekos apalagi mau keluar negeri. Masih sangat kolot dan akhirnya perkuliahan ditempuh perjalanan dengan angkot. Pergi pagi buta dan balik rumah pun sudah Isya. Tidak jarang menjelang jam 10 malam jika ada praktikum di laboratorium yang pengamatannya membutuhkan waktu lama.
Namun, saya tidak pernah menyalahkan keadaan. Menyesal saja karena tidak lebih tegas pada keputusan untuk diri sendiri. Tidak mau berandai juga karena khawatir berdosa karena selalu yakin sama Iman Kepada Taqdir. Kebetulan belakangan ini saya “kuliah online” untuk mengkaji keimanan lebih dalam dan sudah ada di tahap Iman Kepada Taqdir. Makin yakin bahwa Allah selalu punya pelangi indah di setiap ketetapanNya. Meski saya sebagai manusia tetap saja menangis jika ada tak sesuai ekspektasi.
Jadi Ibu Tiga Anak, Penuh Dinamika
Tidak pernah berhenti belajar jadi ibu. Setiap hari setiap waktu bahkan segala perilaku saya di rumah sudah menjadi “buku hidup anak-anak” karena pasti ditiru. Rasanya setiap ucapan, gerakan bahkan emosi akan menjadi contoh bagi mereka. Makanya menjadi ibu jauh lebih tinggi tantangannya dibandingkan menunggu reaksi kimia dari setiap larutan yang dicampurkan dalam tabung reaksi, hehe.
Bangun tidur hingga tidur kembali di bayangan saya 16 tahun yang lalu hanyalah berfokus dengan tempat kerja –> rumah dinas –> bioskop –> tempat makan –> rumah –> tempat kerja –> rumah dinas. Ternyata kesenangan ini tidak berlangsung lama karena takdirNya dipersunting dan memilih resign karena tidak mampu hidup LDM dengan suami. Surabaya – Palangkaraya terlalu jauh karena terpisah pulau. Sesama kota saja bingung apalagi yang berbeda pulau. Salut saya pada pasangan yang menjalaninya dan tetap langgeng hingga maut memisahkan.
Nyatanya sekarang, bangun tidur saya harus mempersiapkan barang jualan, bangunin anak-anak subuhan dan memastikan mereka berangkat sekolah dengan bahagia. Setelah anak-anak berangkat, tidur sebentar dan kembali menjalankan apa saja yang bisa dikerjakan dari dapur agar ketika anak-anak pulang tetap ada yang dikonsumsi.
Bahkan setiap anak punya selera masing-masing. Namun, saya tetap menjalankan pola didik makan apa yang ada, syukuri sedikit banyaknya dan tidak mencela makanan dan minuman yang sudah Allah beri sebab di luar sana masih banyak yang tidak bisa makan dan minum dengan layak.
Siapkan Mental agar Tetap Bahagia
Di balik semua rutinitas itu, memang ada lelah yang tak berkesudahan. Bisa tidur sejenak di siang hari adalah momen charging energi yang kadang tidak terbayarkan ketika anak-anak sedang rewel. Meski usia mereka saat ini makin besar, tetap saja ada yang namanya siblings problematics yang kadang bikin vertigo bahkan nangis di kamar mandi.
Namun, semua akan terlewati. Tidak perlu sampai harus dying karena Allah berikan tiga karena dianggap mampu. Hanya saja memang media sosial seringkali makin memperburuk semangat ibu-ibu muda yang dikaruniai anak dengan menganggap anak itu beban. Akhirnya muncullah statement-statement yang sangat mengintimidasi ibu dengan anak banyak. Membandingkan kehidupannya yang ribet meski dengan satu anak dengan kehidupan yang anaknya banyak. Lama-lama kena mental kalau selalu membuka postingan-postingan seperti ini.
Tingkah laku anak memang mengurasi ragam emosi. Gregetan tetapi di balik itu semua mereka belajar untuk menjalani hidup mereka dari tangan kita sebagai orang tuanya. Jika memang menganggap anak itu beban, harusnya sejak awal menikah ada pembicaraan tidak perlu fokus punya anak, child free saja. Namun, lupakah bahwa semua yang terjadi bahkan 50 ribu tahun sebelum ruh kita ditiupkan, semua hal tentang diri kita sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.
Bahkan saat ditiupkan ruh ke dalam rahim ibu, empat jenis perkara dalam kehidupan kita kelak sudah ditentukan. Lalu, mau mengeluh seperti apa? Terima dan jalani supaya tidak lagi menganggap semua ini terlalu berat. Meski yaa namanya manusia diberi nafsu dan emosi, seringnya berontak dulu lalu sadar kemudian.
Lalu, bagaimana kalau lelah? Apa yang harus dilakukan?
Kalau saya pribadi mencari kegiatan seperti tidur, ijin ke anak pertama kalau bunda mau tidur dan titip adik-adiknya sejenak. Kalau tidak begitu, saya minta ijin sejenak keluar rumah untuk makan es krim atau kemana saja yang penting menjeda diri dari aktivitas anak-anak dulu. Namun, perginya tidak lama. Tidak seharian juga, hehe. Selama sudah menemukan ketenangan kembali, pelan-pelan bisa melanjutkan lagi bersama anak. Soalnya saya takut kebersamaan terlalu singkat karena lagi-lagi umur tidak pernah ada yang tahu.
Menerima Takdir yang Tak Sesuai Mimpi dan Harapan
Banyak kisah inspirasi yang bisa dilihat di internet, media sosial atau bahkan sekeliling kita. Kalau saya pribadi melihat sosok guru yang mengajarkan bersyukur karena memiliki latar belakang pendidikan S2 tetapi akhirnya memilih ranah domestik untuk berkarya.
Memang tak sejalan dengan cita-cita tetapi pada akhirnya ada benang merah yang menjadikan saya tidak menyesal menjadi ibu. Pelan demi pelan anak-anak memperlihatkan progress yang membanggakan meski sering mengurasi emosi marah dan tangis. Sesak awalnya tetapi ketika memilih berdamai dengan takdir, maka mimpi dan harapan yang terkubur akan muncul tunas lain yang gemilangnya makin berkilau.
Percayalah proses menerima itu butuh waktu. Sebab, ada banyak gangguan sana sini yang menyertai. Pegang kuat keyakinan bahwa menjadi ibu bukan akhir dari segalanya.
***
Well, di satu sisi memang terlihat tidak ada kemajuan apa-apa. Namun, percayalah bahwa mencari validasi orang lain akan membuat diri lelah. Fokus dengan masa depan tiga anak saja sudah sanggup mencuri banyak waktu. Lebih baik daripada sibuk mencari pengakuan. Sukses pribadi tidak akan pernah sama dengan pelangi orang lain.
Cerita hidup saya mungkin ada yang sama dengan ibu-ibu sekalian tetapi percayalah selalu ada satu titik yang berbeda.


Beneran kayak sirkus tiap hari ya mbaa
apalagi Trio S aktif bangett.
Pokoke ttp semangaatttt