“Pak, aku mau ikut ke Bandung, boleh?” Tanyaku pada bapak ketika beliau dapat undangan seminar di kota Bandung mewakili guru-guru Bahasa Inggris yang ada di Kabupaten Maros. Memang saat itu bapak berprofesi sebagai supervisor untuk mata pelajaran tersebut.
“Tidak boleh, Nak. Kan di sana bapak bukan jalan-jalan. Bapak seminar alias belajar ilmu baru untuk dibagikan ke guru-guru di sini nantinya.” Jawab bapak sambil mengemasi kopernya.
“Tapi kan aku pengen sekali ke Bosscha, Pak.” Rengekku sambil tetap duduk di tempat tidur melihat bapak mengemasi baju satu per satu.
“Nanti ada masanya, kamu akan puas nikmati Bandung.”
“Sama bapak, kan?”
“Kita lihat saja nanti ya. Belajar yang rajin supaya kelak bisa ke sana tanpa biaya apa-apa seperti bapak ini.”
Kalau mengingat kembali percakapan itu, air mata tidak pernah mau berhenti turun. Deras sekali karena percakapan ini paling kuingat sebagai bentuk perpisahan sementara karena bapak harus keluar kota, keluar pulau bahkan.
Aku memang lebih dekat dengan bapak. Ketika bapak akan keluar kota dan lumayan lama, sepekan waktu itu, aku jadi tidak tenang. Sepekan tanpa bapak apa jadinya aku. Padahal kini sudah masuk 16 tahun tanpa bapak dan rasa sakitnya masih sama. Rindunya masih sama. Dan menyalahkan diriku pun masih terus kulakukan.
Kalau kalian kemudian tanya, apakah aku sudah ke Bandung sesuai impianku bersama bapak? Jawabannya belum dan sampai kini masih berharap bisa ke sana dengan kakiku dan mengingat percakapan demi percakapan yang telah kulakukan bersama bapak untuk membahas Bandung ini.
Oiya, bapak tuh pernah tanya kok memilih Bandung, bukan Jakarta atau kota lain yang lebih terkenal? Jawabanku saat itu hanya karena alasan Bosscha. Aku suka melihat ke langit dan dulu sempat berharap bisa berdialog dengan Tuhan. Melihat bagaimana usahaku untuk terus belajar supaya bapak senang dan bisa membanggakannya. Ternyata berdialog sama Tuhan tidak harus menghadap ke langit. Dalam salat dan sujud panjang sejatinya sudah bisa berdialog lama dengan Tuhan sambil mengutarakan semua keluh kesah dan rasa syukur yang dirasakan.
Ya, itu aku baru tahu setelah duduk di bangku SMA. Sayangnya, dialogku selalu tergesa-gesa karena disibukkan banyak rutinitas sekolah. Hiks… andai saja sejak dahulu lebih dekat, mungkin sekarang sudah lebih baik rasanya…
Soal Bandung, aku juga bersyukur karena ternyata menggeluti aktivitas blogging jadi bisa kenal banyak teman-teman dari Bandung. Meski ada yang sudah bersua, sebagian lain juga ada yang hanya di layar kaca. Namun, itu semua tidak menyurutkan keinginan untuk tetap ke Bandung.
Ini lho 7 alasan kenapa aku mau ke Bandung:
Panorama Alam yang Memukau
Ini aku setuju setelah melihat postingan teman-teman yang mendokumentasikan perjalanannya ke Lembang. Di tambah lagi ada beberapa spot seperti Kawah Puith, Gunung Tangkuban Perahu, Sanghyang Heuluet dan masih banyak lagi lainnya.
Tidak hanya menikmati pemandangan alam tetapi juga wisata yang setiap spot memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjungnya.
Kota Kreatif dan Seni
Tidak salah kalau Bandung dijuluki sebagai kota laboratorium ide. Soalnya di sana ada banyak ide dan seni yang bisa dinikmati. Ada banyak galeri seni dan pameran yang bisa dilihat salah satu contohnya Galeri NuArt.
Dari kampus ITB juga lahir banyak seniman. Banyak band ternama lahir di kota Bandung seperti NOAH, GIGI, Kahitna hingga Project Pop. Bisa kebayang bagaimana senangnya aku kalau misal bisa bertemu dengan salah satu personil band ternama tersebut jika suatu saat berkunjung ke Bandung.
Bisa Belajar Sejarah dan Arsitektur
Hmm… seperti yang aku inginkan sejak kelas 5 SD jika ada waktu ke Bandung, saya ingin ke Bosscha. Namun, sepanjang 2025 Bosscha ini memang tutup karena ada konstruksi pembangunan Teleskop VGOS. Teleskop ini dikembangkan oleh ITB untuk kepentingan riset astronomi dan geodesi global. Hmm.. betapa menyenangkannya jika suatu saat ke sana, banyak perubahan baru dan modern dari Bosscha.
Selain Bosscha, ada Gedung Sate yang sejarah arsitekturnya pasti akan jadi satu artikel ketika kelak bisa berkunjung ke sana. Ada Art Deco di jalan Braga. Tentu makin menambah wawasan seputar keberadaannya di zaman penjajahan Belanda.
Kuliner
Kalau ini sih sudah pasti. Apalagi kalau baca artikel review Bandung yang seringkali dibagikan oleh teman-teman yang sudah lebih dulu diberi nikmat ke Bandung. Kalau di Surabaya memang ada yang jualan makanan Bandung seperti oncom, seblak dan lainnya. Hmm… urusan seblak memang harus makan langsung di kota aslinya supaya klop perjalanan hidup ini, hehe.
***
Well, kalau mau tahu banyak soal Bandung bisa banget jalan-jalan ke blog teman-teman saya yang memang lahir dan besar di sana. Bahkan beberapa di antaranya memang berprofesi sebagai traveler. Nah, kisah perjalanan mereka dituliskan di blog sebagai bentuk review perjalanan sekaligus jadi edukasi kita semua yang baca.


Bandung emang ngga ada bosannya
Apalagi adek iparku tinggal di Gerlong, dekeetttt banget ama Daarut Tauhid Aa Gym…jadi klo lagi ada jadwal kajian, kami biasa cuss ke sana.
ke Lembang juga relatif dekat.
Sejujurnya aku sendiri belum pernah masuk ke Boscha Mba, waktu itu sempat ke sana hanya saja tutup padahal lagi hamil anak pertama ngidam ke sini jauh-jauh datang tutup. 2 tahun silam teman TK si bungsu memberikan cara masuk ke sini ada waktunya dan dibatasi, akhirnya urung karena WAR tiket wkwkwk…jadilah untuk ke Boscha urung sampe sekarang.
“Dan Bandung bagiku bukan sekedar masalah geografis, tapi melibatkan perasaan dan Cuanki yang bersamaku ketika sunyi”
“Bandung diciptakan saat tuhan sedang tersenyum kecuali Perempatan Samsat Kiaracondong”
(Mang Duyeh Baiq)
Bandung ini juga masuk wishlist ku mbaaa….aku pernah ke bandung tapi baru sekali dan itu pun di tengah kotanya diantara deretan2 toko2 baju kalo gak salah daerah cihampelas…
Aku ingin merasakan kota Bandung dengan wisata alam nya, yang katanya Bandung itu adem dan makanannya enak2…dan bener jangan sampe melewatkan untk mengunjungi bosscha..aku inget tempat ini gegara nonton petualangan sherina hehe
Mbaaaa semoga nanti beneran bisa ke bandung yaaa. Aduuuuuh ini kota fav ku zaman sebelum pandemi. Ama suami bisa tidak bulan ke bandung. Naik mobil. Nginep semalam.
Tp lepas pandemi JD jaraaaaang banget. Cuma 1 may dan 1 Juni ini, Krn ada temen2 blogger Malaysia DTG, dan aku nemenin mereka ke bandung jadinya. So, THN ini bakal 2x dalam waktu berdekatan .
Yg aku suka dari bandung, kulinernya sih, dan suhu sejuk. Walaupun skr ga sedingin itu, tp kalau pagi masih berasa kok. Kuliner bandung yg aku susah lepas. Apalagi sambalnya pedes semua .
Ayo sini mbak main ke Bandung. Bandung emang asyik sih buat wisata, walaupun sering macet dan banjir hehehe…
Bosscha itu menurutku impian anak-anak yang tumbuh di tahun 2000-an ya. Pasti pengin ke Bosscha setelah lihat Petualangan Sherina hahahaha…
Aku juga pengin ke sana, tapi walaupun sudah tinggal di Bandung lebih dari 7 tahun, saya belum kesampaian berkunjung ke sana.
Ngomong-ngomong soal bertemu salah satu personil band teekenal, saya juga belum pernah nih selama di Bandung
Mbak, sending virtual hug :”) Nyess baca ceritanya sama bapak. Setiap anak perempuan pasti punya kenangan yang membekas sekali ya dengan sosok ayah.
Btw, aku juga pengen ke Bosscha. Ke Lembang sudah pernah, tapi karena acara family gathering sama kantor suami, jadi nggak bisa explore lebih lanjut. Dan, yah ternyata beneran adem banget di Lembang. Viewnya masyaAllah beuh mantebb. Kira-kira 11:12 lah sama Batu, Malang hawanya.
Yuk, kita ke Bandung. Mau berangkat dari mana? Janjian di mana? Aku sama-sama domisili Surabaya nih, hihi.
Alhamdulillah saya sudah beberapa kali ke bandung Mbak. Tapi Tidak maksimal ekspor Banding karena waktu terbatas. Saya juga belum pernah ke Bosscha. Hanya alun-alun saja dan Gedung Sate. Tapi Bandung memang memikat. Termasuk ragam kulinernya. Pas naik Bandros. Saya jadi sedikitnya tahu banyak sejarah di sana. Termasuk kisah Pak Habibie dsn Bu Ainun yang SMP Mereke berdekatan. Semoga bisa ke bandung lagi. Apalagi sekarang sudah dimudahkan dengan adanya Whoosh
Aku sampai sekarang juga belum lihat Bosscha eui, padahal dulu pas nonton Petualangan Sherina pengen banget ke sana huhu.
Biasanya kalau ke Bandung lebih banyak naik ke Lembang, kalau muter2 pusat kotanya baru 2-3 kali keknya. Nah Bosscha ini deket Lembang tapi belum pernah tahu posisinya haha.
Tapi sekarang kata temenku yang orang Bandung “Dulu Bandung Kota Kembang, sekarang Bandung Kota Kambing” hehe peace teman2 Bandung. Maksudnya Bandung nggak seadem dulu, trus pembangunan makin masif, yang di area2 tinggi tu banyak dibangun lokasi wisata yang asal2an nggak menimbang kondisi lingkungan.
Meski demikian Bandung memang selalu ngangenin terutama soal histori, bangunan bersejarah, juga kulinerannya.
Kangen banget sama Banduuuung… Kangen adem sama kulinernya hehe.. Duluuu aku kuliah di Jatinangor, jadi kalau libur suka sempet-sempetin main keliling Bandung.. Tapi aku malah belum pernah ke Bosscha, padahal pingin banget ke sana sejak nonton Petualangan Sherina, ya.. 😀
Walaupun sekarang udah jaraaang banget ke Bandung, tapi Bandung selalu ada di hati.. Pingin banget rasanya ngulang lagi jalan-jalan ke Tangkuban Perahu, ke Lembang, ke Braga, ke Ciwidey. Bahkan sekedar jalan di trotoar Jalan Riau aja aku rasanya udah seneng 😀 Oiya, satu wishlistku lagi selain ke Bosscha juga pingin ngajak anak-anak ke Museum Geologi, mba.. Semoga bisa kesampaian dalam waktu dekat ke sana.. Aamiin aamiin…
Kalau buat diriku, dulu bandung ini dikunjungi buat jajan dn tentu belanja, jaman distro masih hits… Bandung tujuan utama.
Tapi bagi kakak, Bandung punya cerita dalam yang membekas ya kak… . bukan sekadar destinasi liburan, tapi ada memori dan janji masa kecil yang tersimpan rapi di sana.
Bandung ternyata punya banyak kenangan dan cerita masing masing disetiap orang
Setuju banget kalau Bandung memang layak masuk bucket list! Dari yang dibahas di artikel ini kelihatan jelas kalau daya tarik Bandung itu nggak cuma satu sisi, tapi kombinasi lengkap, mulai dari udara sejuk, wisata alam, sampai kuliner dan tempat nongkrong yang selalu berkembang. Memang benar juga, setiap ke Bandung rasanya selalu ada tempat baru yang bisa dieksplor, jadi nggak pernah bosan. Apalagi dengan banyaknya spot estetik dan suasana yang cocok buat healing, wajar kalau kota ini selalu jadi favorit wisatawan .
Baca openingnya auto mewek jadi ingat bapak almarhum juga
Dulu sempat menyusuri jalan Braga bareng bapak pas lulus SMA dan review untuk kuliah di Bandung, tapi akhirnya ga jadi hehehe
Kangen Bandung, terakhir kesana 3 tahun saat nenek meninggal
Kulinernya ini nih yang bikin kepincut karena banyak variannya. Jadinya kalau ke Bandung udah harus dah bikin list menu yang mana yang mau disantap hehe. Sangking beragamnya ya
Al Fatihah untuk almarhum Bapak mbak. Anak perempuan biasanya cenderung dekat sama Bapak. Aku pun begitu soalnya Mbak.
Nggak salah banget punya wishlist pengen explore Bandung, aku bantu doain semoga segera terwujud ya. Terutama ingin berkunjung ke Bosscha. Bener adanya Kota Bandung ini kembangnya Jawa Barat, sangat memukau, bikin banyak orang tertarik dan berbondong-bondong pengen ke sana. Aku yang tinggal di Bogor pun tidak bosan sama pesona Bandung.
Kulinernya juara, wisata alamnya banyak. Jangan lupa buat mampir ke Tebing Keraton, Lembang, kalau ke Bandung ya. Bismillah segar diijabah sama Allah SWT.
Bandung ini kota yang istimewa buatku karena pernah tinggal di sana waktu masih kecil dulu mengikuti ayah yang mengambil pendidikan. Pas sudah besar aku pernah ke bandung lagi dan pastinya cukup kaget dengan perubahan kotanya dibanding waktu aku masih kecil dulu
Akuuu juga selalu menjadikan bandung ini sebagai destinasi wisata mbak. Soalnya ya nganu, lebih dekat dan murah dari segi biaya. ga begitu jauh kalo dihitung dari Jabodetabek. Kalo mau murah, bisa naik KA Lokal atau naik KA Cikuray. ga sampe 50rb sekali jalan.
daaan disana pun emang banyak banget tujuan wisatanya mbak. Apalagi lembang, beuuuh… gak ada habisnya lah itu, hihihihi. Saya terakhir pun nginepnya di daerah Pasir kaliki, liburannya ke arah Lembang. Sampe sekarang ga nyesel, dan malah pengen balik lagi.
Tinggal Bosscha aja nih emang belom kesampean. pokoknya kalo ada waktu dan uang, aku pasti sempetin mampir kesana.
Tiada senjata yang tak berpelatuk
Berilah tanda dengan bersenandung
Jika Ibukota mulai terasa suntuk
Itulah pertanda waktunya ke Bandung
Emang wajib ke Bandung mbak
Aku uda pernah ke sana pas anak anak masih kecil sih
Mewujudkan inner childku ke Boscha, haha
Lalu juga keliling kota Bandung yang memang secara arsitektur keren banget sih
Bandung memang bikin betah vibe ngangenin sama kayak Yogya ya, kulinernya sama-sama enak dan bikin kangen, padatnya pun serupa hehe kangen jalan-jalan eksplorasi kota Bandung lagi bareng teman-teman..
Bosscha memang rada ribett euuii masuknya..
Memang bukan buat wisata siih.. kalopun welkam dikunjungi, biasanya buat pengenalan ke anak-anak sekolah.
…in syaa Allah ka Amma..
Nanti anak-anak sekolahnya di Bandung. Jadi bisa bulak balik Bandung sesuka hattii..
Barakallahu fiik~
Sudah berdomisili di Bandung dari 2002 walau tidak tetap. (Bulak balik Banten). Selalu ada aja gebrakannya. Dan ya, selalu ngangenin disetiap sudutnya