Orang tua yang memilih homeschooling sudah dipastikan mindset tidak sekadar “anak belajar di rumah” saja. Banyak persiapan yang harus dilakukan seperti kesiapan lingkungan di rumah terutama. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat hal-hal yang perlu diketahui di bawah ini agar orang tua juga bisa tetap enjoy dengan pola pendidikan yang dipilih bersama anak:
Kesiapan Orang Tua dan Anak
Sama seperti saya dulu ketika anak pertama kami sudah waktunya duduk di bangku sekolah. Sejak kecil sudah membiasakan dengan pendidikan di rumah. Ragam aktivitas yang memancing kreativitas dan daya nalarnya kami berikan dan melihat perkembangannya terlihat lebih nyaman di rumah.
Ternyata seiring waktu, lingkungan keluarga suami dan saya pribadi sangat memberikan pengaruh. Anak saya selalu dianggap aneh kalau tidak mau sekolah di sekolah umum. Akhirnya si anak menjadi goyah dan kami pun tidak sanggup menguatkan lagi karena terlihat excited dengan anak-anak yang sekolah formal.
Akhirnya, kesiapan anak yang mau belajar homeschooling tergantikan dengan keinginan untuk sekolah. Kami tidak marah karena anak yang mau menjalankannya. Memaksa anak “belajar di rumah saja” sepertinya tidak nyaman untuk anak kami jadi perlu mencari sekolah yang visi misinya sama dengan harapan akan pendidikan.
Kurikulum dan Materi
Senangnya dengan homeschooling itu karena bisa mendidik anak sesuai dengan pelajaran yang disukai. Misalnya seni, sains atau keterampilan lainnya. Namun, orang tua juga harus siap dana dan waktu untuk membersamai anak dalam belajar. Tidak kemudian diberikan materi atau worksheet kemudian ditinggalkan begitu saja tanpa pendampingan.
Selain itu, standar pembelajaran juga sebaiknya mengikuti standar nasional. Jika kemudian dibutuhkan ijazah belajar, anak dengan mudah mengikuti ujian paket A, B atau C.
Metode belajarnya bisa mandiri di rumah atau diikutkan dalam komunitas yang anggotanya juga homeschooling sehingga anak bisa tetap enjoy dalam belajar dan tidak merasa sendirian. Kalau pengelaman teman saya, anak-anaknya yang homeschooling selalu diikutkan kegiatan pembelajaran outdoor bersama komunitas homeschooling yang ada di domisili tempatnya tinggal.
Anak Tetap Harus Bersosialisasi
Meski anak ikut homeschooling, orang tua harus tetap memastikan anak tetap berinteraksi di lingkungan sekitar. Homeschooling bukan berarti anak anti sosial. Tumbuh kembang anak membutuhkan interaksi dengan orang lain selain keluarga.
Empati, kerja sama dan komunikasi adalah pelajaran hidup yang perlu anak-anak kuasai juga karena percuma otaknya pintar kalau kalimatnya melukai dan merendahkan orang lain, bukan?
Biaya dan Fasilitas
Ini juga menjadi hal penting yang perlu diketahui orang tua. Biaya untuk belajar mandiri di rumah tentunya tidak sama dengan belajar di sekolah formal. Bahkan bisa jadi lebih tinggi dibandingkan sekolah formal.
Orang tua tetap harus menyediakan buku, perangkat digital dan ruang belajar yang kondusif sehingga pembelajaran anak-anak tetap berjalan dengan baik.
Jika ingin tahu fasilitas apa saja, bisa browsing atau membaca blog yang fokus membahas tentang homeschooling seperti Blog Tulisandin, Blog Mbak Lala atau website khusus yang memang mengisahkan perjalanan homeschooling yang dilakukan.
***
Well, jangan ikut-ikutan karena homeschooling sedang tren. Namun, cek kembali kesiapan diri sebagai orang tua, anak sebagai objek yang akan menjalani dan juga perlengkapan yang sesuai dengan perjalanan belajar anak selama homeschooling. Pastikan semuanya saling mendukung sehingga tidak ada penyesalan setelah menjalankan atau bahkan berhenti di tengah jalan.

Yapp karena ngga semua ortu maupun anak cocok untuk ber Homeschooling
Bener² harus dipelajari dgn seksama.
supaya ngga kecewa di kemudian hari
keputusan untuk menentukan pendidikan anak itu harus kita benar2 persiapkan. Yes homeschooling memang sedang jadi tren pilihan orang tua saat ini. Aku pikir kettika memilih homeschooling psti dengan penuh pertimbangan sperti yg embak rahmah tulis diatas.
aku pribadi suka sih dengan kurikulum dan metode belajarnya itu disesuaikan setelah ada briefing dengan keluarga seblumnyaa , terutama anak. Homeschooling sebtulnya bisa secara privat atau majemuk juga bisa ( noted mungkin hanya 1- 3 family)
Setuju jangan karena semua homeschooling jadi ikut2an juga perkara trend, karena masa depan anak dipertaruhkan.
Memang yang namanya pendidikan anak itu harus sesuai value dan kemampuan keluarga masing2 sih ya, tidak terkecuali homeschooling.
Dulu aku juga pilih HS karena memang sekecewa itu sama sistem. Juga mau fokus sama keunikan anak, berupaya mengembangkannya sedini mungkin. Trus suka aja sama fleksibilitasnya, alhamdulillahnya cocok sejauh ini.
Soal sosialisasi, banyak orang mengira kalau anak HS tu dikekep aja di rumah, padahal mereka ya main atau kadang ikutan ekskul/ kegiatan/ les kyk anak lainnya dan ketemu juga anak2 lain seusianya. Bahkan kadang cakupannya lebih luas range usianya.
Pokoknya anak dan ortu enjoy jalani aja, begitu pula kalau ortu dan anak enjoy dengan pilihan sekolah lainnya, negeri, IT, sunnah dll, yang penting enjoy dan fokes ke anak masing2, hehe.
Menurutku tiap pilihan pasti ada benefit dan konsekuensinya masing-masing ya. Salah satu benefit dari Homeschooling, ya tentu dari sisi kurikulum lebih fleksibel, sehingga bisa lebih murah untuk mengawasi dan mengarahkan minat anak nantinya mau dibawa kemana.
Cuma di sisi yang bersamaan, konsekuensinya kita sbg orang tua ya harus telaten dan sabar dalam menghadapi anak. Apalagi kalau pas anaknya moody, ndak bisa pula lah kita bersikap keras dan bertangan besi. Yang ada nanti anaknya jadi males buat sekolah, heuheu
Setumpuk beling tersiram dan basah
Terkena hujan di malam yang bisu
Homeschooling itu tidaklah susah
Asal kesabaran kita gak setipis tisu
Kekhawatiran saat memilih homeschooling untuk anak tuh emang masalah sosialisasinya. Maksudku, jangan sampai lah anak homeschooling jadi enggan main sama temannya.
Bener juga, Homescolling akan kurang efektif jika point – point diatas tidak dilakukan, terutama kesiapan Orangtua dan juga lingkungan pasti akan mempengaruhi, terlebih biasanya homescholling ini jarang dilakukan di masyarakat umum jadi tentunya akan jadi tantangan tersendiri.
Saya setuju sekali dengan poin pertama. Saat memutuskan anak akan Homescholling, bukan saja anak yang siiap, tapi orang tua juga. Karena di Indonesia masih dianggap aneh sesuatu yang berbeda. Kok anak belajar di rumah sih, kan ada sekolah umum blablabla. Padahal Homescholling adalah pilihan. Yang pastinya ada kelebihan dan kekurangannya juga. Tapi hal penting memang semua dari anak saja. Karena anak yang akan menjalankan semua. Orang tua hanya mengarahkan dan berusaha memberikan yang terbaik.
jujur kalau aku malah salut banget sama orang tua yang memilih homeschooling buat anaknya. karena namanya homeschooling artinya orang tua yang harus aktif membuat program belajar anak dan meghadirkan berbagai aktivitas untuk mendukung pendidikan anak tersebut
Salah satu alasan kenapa suami gak setuju waktu aku mengajukan anak kami homeschooling aja, ya karena beliau merasa kami ini belum cukup siap dalam menjalaninya.
Suami melihat, saya hanya tergiur karena ada salah satu kenalan yang tampaknya sukses dengan homeschooling anaknya. Namun, saya lupa menggaris bawahi bahwa kenalan saya itu memang suami-istri yang sudah oke banget di dunia pendidikan. Selain itu, beliau berdua memang sudah sangat siap dan paham dengan a–z tentang homeschooling.
Belum tentu homeschooling cocok untuk semua anak. Ada kalanya anak-anak memang harus sekolah biasa Karena bisa bersosialisasi dengan maksimal di sekolah biasa dan memang untuk homeschooling itu banyak sekali persyaratan dan juga tantangannya dan itu harus diakui oleh orang tua supaya tidak menjadi masalah di kemudian hari
Kalau memilih untuk homeschooling memang perlu lebih jelas ya paham akan prosedurnya, dan tentunya biayanya juga. Sehingga udah punya persiapan, nggak kaget dengan nominalnya misalnya atau dengan sistem pendidikannya.
Penting banget tuh kesiapan ortu dan anak dalam homeschooling. Apalagi biayanya. Bagaimana pun juga, pendidikan meski lewat homeschooling juga perlu biaya yang tidak sedikit.
Apalagi kalo pake kurikulum internasional yang udh standar internasional pula. Ini malah lebih ngeri dari sekolah biasa dampaknya. Dan tetap saja, sosialisasi bagi anak itu penting ya kak.
Smg anak2 kita dpt pendidikan terbaik ya kak.
Ini beneran relate banget sih yaaaa, terutama bagian tentang kesiapan mental orang tua menghadapi stigma “aneh” dari lingkungan. Memang benar, homeschooling bukan sekadar pindah lokasi belajar, tapi soal komitmen penuh mendampingi minat anak.
Saya setuju soal aspek sosialisasi; kecerdasan emosional dan empati tetap harus diasah lewat komunitas agar anak tidak merasa sendirian. Bagian biaya juga poin penting yang sering terlupakan karena dianggap lebih hemat, padahal fasilitas mandiri butuh investasi juga.
Nah ini Aku setuju. Homeschooling itu bukan cuma sekedar belajar di rumah. Bagi yg memang bisa mengajari anak dengan telaten, tau bahan2 materi yg bagus, sah sah saja memilih HS utk anaknya. Kalau aku memang ga sanggub. Makanya memutuskan sekolah biasa. .
Tp skr ini memang sudah banyak yg menyediakan les atau materi utk anak2 HS ya mbak. Walaupun kayak yg mba bilang, biayanya bisa JD lebih mahal dr sekolah biasa jadinya .
Aku dulu sempat mau meng-homeschooling-kan anak sulungku. Tapi karena tiba-tiba aku hamil lagi, aku memutuskan anak sekolah saja karena aku tahu dengan kehamilan itu aku nggak akan sanggup handle kegiatan si sulung. Belum lagi kalau nantinya harus mengurus bayi dan balita lagi. Udh jelas nggak akan kepegang kalau aku tetap ngotot homeschooling.
Emang benar buat homeschooling penting kesiapan orang tua. Siap memanage pendidikan anak, juga siap dengan segala pertanyaan dan komentar orang luar. Karena di Indonesia, meskipun mulai banyak yang menerapkan, tapi homeschooling masih dianggap “aneh”.
Punten Mba, blog aku Lala nggak pernah membahas terkait homeschooling.
Pertimbangan untuk memilih homeschooling memang butuh persiapan dan kesiapan, baik dari segi lingkungan, materi, kurikulum, memastikan anak tetap bersosialisasi pun menjadi salah satu fokus ortu ya.
Intinya mesti beneran maksimal persiapannya, supaya kalau anak menjalani homeschooling bisa maksimal, enjoy, dst. Makasih pencerahannya, bermanfaat bagi para ortu dan calon ortu ya.
Memang bukan mbak Lala jenengan kok
Ada mbak Lala yang lain yang punya Rumah Inspirasi, hehe
Sering disebut Ibu Lala tapi aku tetap mbak panggilnya
homeschooling itu berat menurutku, pernah kepo dengan sistem home schooling mbak Lala dan suami, keren deh mereka, konsistensinya luar biasa dan yudis sama adiknya duh siapa ya lupa namanya sukses masuk univ negeri, dan ini akhirnya membuka mata banyak pihak bahwa anak homeschooling pun mampu
Aku pikir homeschooling ini jauuh lebih hemat.. ternyataa, budgeting mah tetep ada yaa..Apalagi media pembelajaran yang lengkap.
Aku pernah juga berniat homeschooling. Dan berhasil berjalan sampai anak-anak TK.
Ya Allah.. rekor pissaan..
Overall, anak-anak merekam kenangan manis.. karena sering belajar dan kopdar sesama temen homeschooling kan yaa…